Lombok Barat – Sebanyak 26 siswa-siswi Yayasan Pondok Pesantren Aunul Ibad NW, Dusun Beroro, Desa Jembatan Kembar Timur, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dilarikan ke Puskesmas Jembatan Kembar setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Gejala keracunan mulai timbul sekitar 30 menit setelah para siswa menyantap makanan tersebut, yang dibagikan sekitar pukul 09.00 wita pada Rabu, 24 September 2025.

Beberapa siswa awalnya merasakan gejala mual-mual, muntah, sakit perut, hingga pusing usai mengkonsumsi makan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan. Kemudian mereka mengeluh sakit setelah menjelang beberapa pukul 09.30 wita.

Pihak sekolah bertindak cepat memberikan bantuan dengan membawa para siswa tersebut ke fasilitas kesehatan terdekat Puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis.

Kepala Sekolah Masjudin, M.Pd., yang ditemui di kantornya, membenarkan kejadian ini. “Memang benar adanya sejumlah siswa yang keracunan makanan tersebut setelah mengonsumsi sekitar 30 menit,” ujarnya. Total siswa yang terdampak mencapai 26 orang.

Kepala UPT Puskesmas Jembatan Kembar, Komang Arya, menjelaskan bahwa seluruh siswa yang datang telah mendapatkan penanganan medis. Namun, ia belum bisa memastikan penyebab pasti keracunan tersebut.

“Untuk sampel makanan, sudah kita kirim ke BPOM. Itu saja sih yang kita bisa ini kan, karena belum bisa juga kami memastikan penyebabnya itu apa. Cuma untuk gambarannya, kita sudah kirim sampelnya ke BPOM,” jelas Komang Arya.

Ia menambahkan, pihaknya juga telah mengirimkan sampel ke SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk pengecekan. Hasil uji laboratorium dari BPOM akan menjadi penentu apakah keracunan tersebut berasal dari program MBG.

Menurut catatan Puskesmas Jembatan Kembar, gejala keracunan mulai muncul pada pukul 09.30, dengan 6 orang siswa pertama tiba di Puskesmas sekitar pukul 10.00.

Para siswa yang mengalami gejala ringan, seperti pusing, mual, dan muntah, datang secara bertahap. Hingga siang hari sekitar pukul 12.00, beberapa siswa dengan kondisi membaik sudah diperbolehkan pulang.

Kemudian, sekitar pukul 17.30 wita datang lagi 12 santriwati, diikuti 4 orang pada pukul 19.15 wita, dan 2 orang lagi sekitar pukul 20.30 Wita. Gelombang terakhir datang hingga pukul 22.00 wita.

“Totalnya yang masuk 26 orang. Tapi sekarang, alhamdulillah, semuanya sudah dipulangkan,” tutup Komang Arya”.

Pihak Sekolah memberikan saran dan masukan kepada pengelola dan semua pihak yang terkait untuk lebih memperhatikan bahan baku yang lebih higienis, yang fresh, terjamin kualitasnya, sehingga tidak akan menimbulkan seperti yang kami alami ini. Ini demi kebaikan kita bersama.

Untuk sementara karena masih ada trauma baik dari Santri maupun dari Wali Santri, sementara waktu kami stop dulu untuk pembagian MBG ini sampai dengan batas waktu yang belum bisa kami tentukan. Tutup

masjudin.