Lombok Tengah – Sejumlah Masyarakat Desa Lekor, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), NTB, diduga tertipu oknum pengacara inisial ZH Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur, dengan modus akan di berangkatkan ke Australia dengan di janjikan Visa dan Label Lembaga ZH untuk kemudahan keberangkatan mereka.
Awal mula kejadian ZH yang merupakan sahabat dari salah satu korban bernama Isniati Warga Dusun Lingkok Bunut, Desa Lekor, Kecamatan Janapria yang sangat percaya kepada ZH selaku seorang pengacara. Menganggap ZH sebagai Saudara kandungnya, Isniati kemudian curhat ke ZH jika dirinya bersama sejumlah orang terdekatnya punya niat ingin mencari keberuntungan hidup menjadi TKI ke Australia.
Dari sebuah obrolan Isniati meminta petunjuk kepada ZH bagaimana cara dan langkah untuk menggapai harapan dan keinginannya tersebut.
Kemudian karena mendapatkan angin segar dari sebuah pembicaraan, Isniati menceritakannya kepada 15 orang yang memiliki tujuan yang sama dengan Isniati.
Kemudian berkumpul bersama untuk mendengarkan arahan dari ZH.
15 orang tersebut kemudian menggebu-gebu karena ZH memberikan harapan yang sungguh menyentuh, bahkan dari segi pakaian yang akan di pakai ke bandara, kacamata hingga menggunakan ID Card atas nama lembaga ZH agar tidak ada pertanyaan di bandara.
Setelah mendapat poin dari cerita ZH, 15 orang tersebut kemudian mengeluarkan uang Visa sejumlah Rp. 6.000.000 per orang atas permintaan pertama ZH.
Dilanjut Isniati, Tahap selanjutnya pembuatan paspor yakni Budi Setiawan, Khairil ikhsan, Dimas Dodi dan Sahrap mereka di bekali surat Lembaganya ZH dan menjanjikan pasport tersebut jadi dan bisa di terima dalam waktu satu Minggu. Sesampainya di imigrasi salah seorang atas nama Sahrap ketika di tanya petugas Imigrasi tentang Tujuan dan pekerjaannya, jabawan Sahrap membuat petugas Imigrasi ketawa “saya mau ke Australia mau petik buah” kata Sahrap yang membuat petugas ketawa.
Selanjutnya di susul 11 orang lainnya untuk pembuatan pasport. Adapun rincian biaya pembuatan pasport tersebut bervariasi yang di mintai oleh ZH.
Berikut rincian biaya pasport yang di keluarkan 15 orang tersebut, diantaranya:
1. Sahrap Rp. 16.000.000
2. Isniati Rp. 9.500.000
3. Herman Rp. 9.500.000
4. Sultan Rp. 9.500.000
5. Midar Rp. 9.500.000
6. Junaidi Rp. 7.500.000
7. Masnun Rp. 6.500.000
8. Sadarudin Rp. 6.500.000
9. Budi Setiawan Rp. 5.000.000
10. Arwin Dimas Rp. 5.000.000
11. Khairil ikhsan Rp. 5.000.000
12. Lalu Moh Kal Rp. 5.200.000
13. Suhaimy Rp. 2.500.000
14. Asep Supriatna Rp. 2.500.000
15. Muh. Zaenuri Rp. 2.500.00
Biaya di atas membengkak akibat Sahrap yang salah ngomong kepada pihak imigrasi sehingga ZH meminta sejumlah orang tersebut mengeluarkan biaya lagi untuk pembuatan pasport ulang.
Karena pasport yang berbulan-bulan di janjikan tidak kunjung selesai dan di desak juga oleh sejumlah rekan-rekannya, Isniati yang merasa sebagai orang terdepan kemudian mendatangi ZH untuk minta kejelasan.
“Saya ini pernah jadi TKW, setau saya biayanya juga tidak begitu besar kok, ini udah besar tapi kok tidak kunjung selesai, bagaimana sih?,” Desak Isniati kepada ZH.
Curiga karena merasa proses tersebut tak kunjung selesai dan tidak jelas, Isniati dan kawan-kawannya mencari tau tentang PT. yang sering di sebut ZH yang akan memproses perjalanan mereka.
Sesampainya di PT tersebut Isniati kemudian bertanya ke salah satu staf tentang visa Australia tersebut, namun ia di jawab kalo PT tersebut hanya memfasilitasi visa Umroh, kemudian Isniati dan kawan-kawannya sadar jika dirinya di tipu.
Setelah mengetahui dirinya merasa di tipu, Isniati mengajak kawan-kawannya untuk mendatangi rumah ZH untuk minta pertanggungjawaban atas sejumlah uang yang telah mereka keluarkan. Namu sampai saat ini ZH belum bisa menyelesaikan sejumlah uang yang di keluarkan 15 orang tersebut, dan bahkan nomor mereka di duga di blokir oleh ZH.
Sementara ZH yang di konfirmasi via WhatsApp Media korancepat.com
“Sudah di kuasakan ke Pak wawan semuanya kemarin bang, hadirkan pak wawan, dari kemarin saya tunggu beliau bang,” jawab singkat ZH.









