Korancepat – Kejadian menyedihkan melanda seorang Warga Dusun Ketemek, Desa Kuripan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), bernama Serinah Wanita (55) tahun yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gerung. Serinah di duga meninggal dunia akibat tidak maksimalnya pelayanan yang di berikan pihak RSUD. Bahkan keluarga serinah pun dinyatakan tidak boleh memasuki ruangan. Padahal keluarga hanya ingin menjaga agar bila kondisi tidak baik dan bisa memanggil tenaga kesehatan yang piket. Dan saat kondisi Serinah terlihat memburuk, tak ada satupun dokter yang menghampiri.
Suhartini yang merupakan anak kandung Almarhumah Serinah menceritakan, Peristiwa tersebut bermula ketika Serinah telah menjalani perawatan selama dua hari di RSUD Gerung. Pada hari Kamis (04/12/25), keluarga pasien sedang menunggu di luar ruangan, mengikuti aturan yang mereka pikir berlaku. Namun, tiba-tiba beberapa orang petugas keamanan datang dan membentak keluarga untuk menyuruh mereka keluar dari area sekitar ruangan pasien.
“Biasanya kita boleh nunggu di luar ruangan, tapi hari itu tiba-tiba ada security yang marah-marah, memaksa kita keluar jauh. Kita cuma mau tahu kabar pasien, yang kondisinya udah kritis sejak kemarin,” kata Suartini.
Setelah bentakan dan pengusiran tersebut, hanya beberapa menit kemudian keluarga mendapatkan kabar yang menyakitkan: Serinah telah meninggal dunia. Keluarga menyatakan bahwa pada saat pasien mengalami kondisi kritis yang akhirnya menyebabkan kematian, tidak ada dokter atau perawat yang berada di dekatnya untuk memberikan penanganan darurat.
Anak dan suami Serinah mengungkapkan kesedihan mendalam serta keberatan yang kuat terhadap pelayanan yang diberikan pihak RSUD Gerung. Mereka menyatakan bahwa peraturan yang dijalankan petugas keamanan tidak masuk akal, terutama ketika pasien dalam kondisi yang membutuhkan perhatian keluarga dan perawatan medis segera.
“Kita sedih banget, tidak cuma karena mama meninggal, tapi karena cara pihak rumah sakit menangani. Saat mama butuh dokter, tidak ada yang datang. Saat kita mau mendekat, kita diusir. Ini bukan pelayanan yang seharusnya diberikan rumah sakit yang bertanggung jawab terhadap nyawa orang,” kata anak korban dengan suara terengah-engah.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak RSUD Gerung belum memberikan keterangan resmi apapun terkait kejadian ini. Keluarga menyatakan bahwa mereka akan melakukan laporan ke pihak berwenang untuk meminta klarifikasi dan penjelasan mengenai pelayanan yang tidak memadai serta penyebab kematian Serinah.
Masyarakat sekitar juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kualitas pelayanan di RSUD Gerung, terutama dalam menangani pasien dengan kondisi kritis. Beberapa warga menyatakan bahwa ini bukan pertama kalinya ada keluhan mengenai tata tertib dan ketersediaan tenaga medis di rumah sakit tersebut.
“Kita harap pihak pemerintah dan pengelola RSUD Gerung segera menindaklanjuti kasus ini. Nyawa orang tidak bisa dimainkan-mainkan. Harus ada penjelasan jelas dan tindakan tegas agar kejadian sejenis tidak terulang lagi,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Desa Kuripan.
Keluarga Serinah berharap bahwa dari kejadian ini, pihak rumah sakit akan melakukan perbaikan yang signifikan dalam sistem pelayanannya, sehingga warga yang membutuhkan perawatan medis bisa mendapatkan layanan yang layak, profesional, dan penuh perhatian.
Sementara Direktur RSUD Gerung dr. H. Suryadi, Sp. An TI., FISQua yang coba dikonfirmasi pihak media terkait peristiwa tersebut, namun ia hanya memberikan jawaban singkat.
“Datang ke RS saja pak. Besok bisa ke RS, kami konfirmasi dulu ke dokter yang merawatnya terkait hal tersebut bagaimana permasalahan sebenarnya,” jawab Suryadi.










