Korancepat – Hujan deras yang mengguyur wilayah Lombok Barat (Lobar) dalam beberapa hari terakhir memicu banjir besar di sejumlah dusun di Desa Perampuan, Kecamatan Labuapi, pada Senin (1/12/2025). Musibah ini telah memaksa sebagian warga mengungsi, sementara Pemerintah Kecamatan segera bergerak cepat meninjau lokasi terdampak.

Camat Labuapi, Lalu Pardita Utama, didampingi Kepala Desa Perampuan, H. M. Zubaidi, dan tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lobar, langsung mendatangi lokasi untuk memastikan kondisi warga dan mengkoordinasikan penanganan darurat.

Titik tinjauan utama Camat Pardita adalah Dusun Kerepet, salah satu lokasi pengungsian bagi warga yang rumahnya terendam. Di lokasi tersebut, ketinggian air dilaporkan mencapai lutut orang dewasa, membuat proses evakuasi menjadi keharusan, terutama bagi kelompok rentan.

“Kami turun bersama Tagana untuk mengecek kondisi warga, terutama anak-anak. Kami berharap Puskesmas Perampuan dapat segera melakukan pemeriksaan kesehatan di lokasi pengungsian,” ujarnya, menegaskan fokus pemerintah kecamatan pada keselamatan dan kesehatan para penyintas.

Sementara itu Kepala Desa Perampuan, H.M. Zubaidi, menyampaikan data terkini mengenai skala dampak banjir di desanya. Menurut laporan yang ia terima dari kepala-kepala dusun, musibah kali ini berdampak pada lebih dari 400 Kepala Keluarga (KK).

Ratusan KK tersebut tersebar di empat dusun utama:

1.  *Dusun Kerepet* (lokasi pengungsian)

2.  *Dusun Kapitan*

3.  *Dusun Bayan Pengsong*

4.  *Dusun Karang Bayan*

“Laporan dari para kepala dusun menunjukkan jumlah warga terdampak sudah lebih dari 400 KK,” tegas Zubaidi, menunjukkan meluasnya area genangan air.

Zubaidi menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga faktor utama yang memicu dan memperparah bencana banjir di Desa Perampuan.

Pertama, faktor cuaca ekstrem berupa curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir. Kedua, curah hujan yang tinggi ini menyebabkan debit air sungai setempat meningkat drastis, diperparah dengan adanya kiriman air dari hulu.

“Debit sungai naik karena kiriman air dari hulu. Sungai meluap dan masuk ke rumah-rumah warga,” jelasnya.

Ketiga, faktor struktural terkait dengan pembangunan dan tata ruang. Zubaidi secara spesifik menyoroti persoalan pembangunan perumahan yang dinilai tidak teratur, yang secara signifikan mengganggu dan mengubah aliran alami sungai.

“Setelah perumahan dibangun, aliran sungai jadi tidak jelas arahnya,” imbuhnya, mengindikasikan bahwa masalah tata ruang ini telah menjadi kerentanan kronis yang memperparah kondisi banjir setiap kali curah hujan tinggi terjadi.

Pemerintah Desa Perampuan memperkirakan genangan air akan mulai surut dalam waktu tiga hingga empat hari, asalkan kondisi cuaca membaik dan tidak ada hujan susulan. Namun, jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, jumlah warga terdampak dikhawatirkan akan terus meningkat.

Menghadapi situasi darurat ini, Kades Zubaidi menyampaikan harapannya agar Pemerintah Lobar segera memberikan respons penanganan.

“Kami berharap Pemerintah Lobar, khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), segera turun memberikan bantuan dan penanganan darurat bagi warga terdampak banjir,” pungkasnya, menggarisbawahi perlunya dukungan logistik dan penanganan bencana yang terkoordinasi dari tingkat kabupaten.