Korancepat – Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat (Lobar) terus memperkuat berbagai program strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga stabilitas harga pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Kepala Dinas Pertanian Lobar, Damayanti Widyaningrum, saat ditemui di ruangannya menjelaskan dua program unggulan yang kini menjadi fokus utama, yakni Tentakel (Tenten Tani Keliling) dan Optimasi Lahan.
Damayanti mengatakan bahwa program Tentakel merupakan bentuk nyata keberpihakan pemerintah daerah kepada petani dan masyarakat, sesuai dengan jargon Lobar “sejahtera dari desa dan kerja nyata.”
Melalui Tentakel, Dinas Pertanian mendistribusikan langsung produk petani dan peternak ke Desa-desa, termasuk membawa para petani untuk ikut berjualan. Program ini mampu memangkas rantai distribusi, sehingga harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibandingkan harga pasar.
“Selisih harga bisa mulai dari Rp 1.500 sampai Rp 12.000. Contohnya telur selisihnya Rp 8.000 per tray, bawang putih Rp 12.000, beras Rp 5.000,” jelas Damayanti.
Program yang sebelumnya digelar rutin setiap minggu di CFD Gerung ini kini dilaksanakan setiap hari, khususnya menjelang Nataru, untuk menjaga stabilitas harga dan mencegah lonjakan inflasi daerah.
“Harga yang kami jual tetap membuat petani untung karena kami yang membiayai distribusi melalui fasilitasi distribusi pangan (FDP). Masyarakat mendapat harga murah, petani tetap sejahtera,” tegasnya.
Saat ini Tentakel menjual 12 komoditas pangan strategis penyumbang inflasi, seperti beras, telur, cabai, tomat, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula, dan daging unggas. Selain menekan harga, program ini juga membuka pangsa pasar baru bagi petani Lobar, khususnya melalui kolaborasi dengan program Bulan Gerbang Nata (BGN) dari Pemprov NTB.
“Dengan adanya BGN, banyak petani langsung mendapat kontrak pasokan sayur dan telur. Ini manfaat besar Tentakel, bukan hanya menurunkan harga tapi juga memperluas pasar petani,” jelas Damayanti.
Untuk komoditas yang minus, seperti bawang putih dan sesekali bawang merah, Dinas Pertanian melakukan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan Champion Cabai dan Champion Bawang Lombok Timur untuk mendapat harga stabil dan pasokan tetap.
Selain Tentakel, Damayanti menyoroti program Optimasi Lahan, yang bertujuan meningkatkan produktivitas lahan kering yang sebelumnya hanya bisa ditanami satu kali dalam setahun.
Program ini menyediakan fasilitasi irigasi, seperti bantuan perpipaan dan perpompaan untuk mengalirkan air dari sungai ke sawah. Salah satu contoh implementasi berada di Desa Banyu Urip, di mana air sungai disedot ke embung sejauh 300 meter, lalu dialirkan hingga 2 kilometer ke lahan pertanian.
Hasilnya, lahan yang tadinya hanya bisa tanam satu kali kini dapat tiga kali tanam, dengan peningkatan produksi dari 5 ton menjadi 6–6,5 ton per hektar. Pendapatan petani pun meningkat signifikan hingga dua sampai tiga kali lipat.
“Kepala desa sangat menantikan program ini, karena lahan yang tadinya tidak produktif kini bisa ditanam berulang kali,” ujar Damayanti.
Tahun ini Lobar mendapat alokasi 300 hektar program optimasi lahan dari pemerintah pusat. Untuk tahun 2026, Dinas Pertanian sudah mengajukan perluasan hingga 1.600 hektar.
Program ini menyasar wilayah dengan lahan satu atau dua kali tanam yang memiliki potensi sumber air, seperti Sepotong, Lembar, Kuripan, Kediri, dan Gerung. Bahkan jika tidak terdapat sumber air permukaan, petani didorong memanfaatkan sumur bor sebagai alternatif penyediaan air.
Damayanti menegaskan bahwa kedua program ini merupakan bukti nyata komitmen Dinas Pertanian Lobar dalam meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menekan inflasi daerah.
“Harapan kami, petani sejahtera, masyarakat tersenyum dengan harga terjangkau, dan inflasi tetap terkendali. Inilah kerja nyata kami sesuai jargon Lobar,” tutupnya.










