Lombok Tengah – Belakangan ini, isu tentang penertiban pemukiman dan usaha semi permanen di sekitar Pantai Tanjung Aan kembali mencuat. Banyak yang merasa kawasan tersebut sedang “digusur” demi pembangunan hotel dan beach club. Namun realitanya lebih kompleks.
Divisi Kajian Pariwisata Sumber daya alam dan Lingkungan hidup Kawal NTB Lale Uswatun H yang Familiar di sapa tatun menyampaikan beberapa pendapat dan kajiannya dalam melihat fenomena pariwisata khususnya di kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yakni Tanjung Aan.
“Pro dan kontra adalah hal biasa namun tentu semua kita kembalikan pada aturan sekaligus kearifan lokalnya,”kata Tatun.
Kondisi Saat Ini Beberapa bangunan yang berdiri di sekitar pantai sebenarnya semi permanen meski kita mengetahui tidak memiliki izin tetap, dan kurang berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Sampah yang tidak terkelola dengan baik , fasilitas tidak terurus, dan kebersihan pantai jadi menurun. Ini justru merusak daya tarik wisata yang menjadi kebanggaan Lombok, ujarnya.
Lebih lanjut Tatun menjelaskan, Pembangunan Hotel dan Beach Club Menurut kabar terbaru, kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi akomodasi resmi, termasuk hotel dan beach club. Ini bukan sekadar proyek komersial biasa. Lokasinya yang dekat dengan Sirkuit Mandalika membuatnya sangat strategis untuk :
Pertama. Menyediakan hunian layak dan profesional bagi tamu-tamu MotoGP, dan event internasional lainnya.
Kedua. Meningkatkan standar pariwisata di kawasan Kuta-Mandalika adalah keharusan jika kita ingin bersaing dengan destinasi wilayah lainnya.
Dan ketiga. Menarik investor yang serius dan bertanggung jawab secara lingkungan adalah Keseimbangan yang Diharapkan.
Namun apapun itu, Penertiban suatu kawasan yang sudah di huni oleh masyarakat lokal harus adil dan manusiawi, dengan solusi untuk warga atau pelaku usaha lokal yang terdampak.
“Pendapat kami sebuah Pembangunan jangan hanya mengutamakan estetika, tapi juga memberdayakan masyarakat sekitar melalui pelatihan, kerja sama, dan lapangan pekerjaan. Dan yang paling penting Pelestarian alam dan budaya lokal harus tetap jadi prioritas,” tutupnya.










