LOMBOK – Azkurli Hidayat Sebagi Tokoh Pemuda Dusun Serewa, Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Tengah, Kabur Lombok Tengah (Loteng), Provinsi Nusa Tenggara Barat ((NTB) menceritakan tentang Ritual Perang Timbung..
Perang timbung yang tujuannya untuk upacara Tolak Balak Marabahaya dan mengharapkan berkah dari tuhan yang maha Esa serta menjalin kerukunan masyarakat Pejanggik khususnya dan masyarakat secara umum.
“Mitos yang berkembang, prosesi perang timbung ini bisa di jadikan ajang mencari jodoh,” kata dayat Jumat (23/08/24)
Dijelaskan Dayat, Timbung merupakan jajanan tradisional suku Sasak (Lombok) yang terbuat dari beras ketan yang di campur dengan air perasan santan dan di masukkan ke dalam bambu kemudian di bakar.
Namun cara pembuatan Timbung di acara Ritual Perang Timbung beda dengan pembuatan Timbung umumnya. Seperti sangkal harus akar bambu, pohon turi, pohon Bantenan, bambu yang sudah di seleksi, daun pisang yang di seleksi pula, beras ketan dan kelapa. Kemudian Timbung itulah yang di jadikan senjata saat Perang.
Adapun di malam hari sebelum acara Perang Timbung, masyarakat melakukan ritual dari Sarakalan dan Pembacaan Duntal.
“Acaranya di pusatkan di Makam Serewa yang merupakan kompleks makam Raja-raja Pejanggik dan keluarganya,” jelas dayat.
Ditempat yang sama, Satrianadi selaku Juru Pelihara Situs Makam Serewa yang sekaligus mangku dari Ritual Perang Timbung menjelaskan, sebelum perang di mulai, kami lakukan ritual sejenis pertapaan untuk bisa mendapatkan Air dari Lingkok Tais (Sumur Kering) kemudian itu di bagikan kepada warga yang berkeyakinan air tersebut memiliki berbagai khasiat. Padahal secara kasat mata Lingkok Tais tersebut sama sekali tidak berair.
“Tapi atas izin Allah, mukjizat Allah kita selalu diberikan airnya dari proses ritual yang kami,” jelas Satria
Lebih lanjut Satrianadi mengungkapkan jika tahun ini masyarakat Asli Serewa sedikit memiliki perbedaan terkait penanggalan acara Perang Timbung sehingga tahun ini akan di lakukan dua kali katanya.
Masyarakat Serwa tidak mau tergerus dengan cara modern yang keluar dari keaslian Ritual yang di warisi nenek moyang mereka. Karena sejatinya Ritual Perang Timbung ini sudah memiliki penanggalan sendiri yakni bulan 4 penanggalan Sasak dan Bulan 8 yakni Bulan Agustus bulan Pemerintah.
“Kalo pohon Dangah ini berbunga inilah pertanda ritual akan dilaksanakan,” katanya
Kami sangat mendukung pemerintah yang telah support acara Ritual Perang Timbung ini meskipun sedikit beda dengan masyarakat Serewa. Semoga kedepannya kami makin di perhatikan pemerintah Daerah maupun pemerintah pusat.
“Acara besok kami warga akan bersama pemerintah memeriahkan Acara Ritual ini lagi,” tutupnya. (V)










