Korancepat – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) merilis laporan resmi terkait bencana banjir yang melanda dua kecamatan, Sekotong dan Labuapi, sejak Senin, 1 Desember 2025, pukul 22.00 WITA.

Banjir yang dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi (hidrometeorologi) ini telah berdampak pada 1.440 Kepala Keluarga (KK) dan memaksa 25 jiwa mengungsi.

Berdasarkan laporan tertanggal Rabu, 3 Desember 2025, pukul 09.15 WITA, bencana banjir terfokus di:

1. Kecamatan Sekotong: Desa Sekotong Tengah.

– Rincian Terdampak: Dusun Sekotong I (201 KK), Sekotong II (352 KK), Gunung Anyar (206 KK), Mekar Sari (74 KK), dan Telage Lebur (289 KK). Banjir juga dilaporkan terjadi di Bunmas.

2.Kecamatan Labuapi: Desa Karang Bongkot, Desa Perampuan, dan Desa Kuranji.

– Rincian Terdampak: Desa Perampuan (202 KK, 25 jiwa mengungsi di Dusun Kerepet, Bayan Pengsong, Kapitan Bayan, dan Karang Bayan), Desa Kuranji (20 KK di Dusun Celongkong), dan Desa Karang Bongkot (96 KK di Dusun Nyamarai).

Kepala Pelaksana BPBD Lobar, Drs. H. Sabidin, memastikan bahwa intensitas hujan hidrometeorologi pada akhir tahun memicu banjir beruntun. Ia menjelaskan meskipun hujan berkategori ringan hingga sedang, durasinya yang panjang menyebabkan sejumlah desa terendam, terutama di Labuapi yang menjadi wilayah paling terdampak.

BPBD Lobar memastikan bahwa tidak ada korban jiwa, korban luka-luka, maupun warga hilang akibat peristiwa ini.

Selain itu, laporan kaji cepat menunjukkan tidak ada kerusakan signifikan pada infrastruktur vital, termasuk:

Rumah warga, Fasilitas pendidikan dan kesehatan, Fasilitas peribadatan, Pertokoan dan Tanggul.

Kondisi di lokasi saat ini dinyatakan kondusif. Namun, di wilayah Sekotong Tengah, BPBD mencatat jembatan darurat warga di Blongas sempat putus, meskipun air cepat surut sekitar pukul 08.30 WITA karena karakter resapan air Sekotong yang cepat menuju laut.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD langsung bergerak cepat ke lokasi dengan melaksanakan langkah-langkah darurat, di antaranya:

1. Koordinasi intensif dengan aparat desa, BMKG, dan lintas dinas terkait (PUPR, Perkim, Dinsos).

2. Pelaksanaan kaji cepat dan pemantauan perkembangan di lapangan.

3. Pengerahan personel dan penyaluran bantuan logistik berupa beras dan sembako.

Meskipun demikian, BPBD mencatat keterbatasan logistik di gudang Kabupaten Lombok Barat sebagai kendala utama dalam merespon kebutuhan mendesak masyarakat, yang meliputi: pemenuhan logistik, bantuan pembersihan lingkungan, perlengkapan tidur, dan air bersih.

Sabidin, menggarisbawahi bahwa wilayah terdampak merupakan langganan banjir tahunan. Penyebab utamanya adalah saluran air yang tertutup lumpur (sedimen), meskipun pengerukan rutin sudah dilakukan. Selain itu, bangunan warga (kios dan jembatan kecil) yang menutupi saluran juga memperburuk kondisi di Sekotong.

Mengingat Lobar berada pada masa peralihan musim dari kemarau ke hujan, BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan signifikan, cuaca ekstrem, dan angin kencang dalam tiga hari ke depan. BPBD juga telah menyalurkan geobag di titik rawan sebagai langkah mitigasi longsor.

Sebagai solusi jangka panjang, BPBD Lombok Barat merekomendasikan untuk Normalisasi sungai dan Pembuatan atau penataan saluran air.

Penertiban bangunan yang menutupi saluran akan dikoordinasikan bersama dinas teknis dan Satpol PP. Masyarakat juga diimbau untuk bergotong royong membersihkan saluran air.

Laporan resmi kejadian ini telah disampaikan kepada BNPB, Penjabat Gubernur NTB, Penjabat Bupati Lobar, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, dan Dinas Perkim Lobar.