Lombok Tengah – Makam Serewe merupakan makam dimana di yakini Datu Pejanggik kala itu menghilang di tempat itu (Makam Serewe) saat dikejar oleh musuh-musuhnya. Hingga di jadikan Central acara Perang Timbung. Dimana jelang dilakukan perang timbung, para wanita dan pria mengenakan pakai Adat Sasak ketika berada di dalam area Makam sebagai Bentuk Rasa Syukur, juga diyakini sebagai Momen Cari Jodoh.
Hari ini Jumat 29 Agustus 2025 Tradisi Perang Timbung di Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Tengah digelar setahun sekali di bawah komando Pemangku keturunan ke Enam yakni Satrianadi dilaksanakan dengan aman dan lancar.
“Alhamdulillah acara ritual saat ini berjalan sesuai harapan, dari segi mistis juga kami dipermudah dan didukung, tidak seperti tahun sebelumnya, kami sempat di tegur, mungkin itu akibat adanya gejolak dari masyarakat sekitar,”tutur Satrianadi.
Lebih lanjut Satrianadi mengungkapkan jika Tradisi Perang Timbung tersebut terlihat sederhana dimata masyarakat Lombok Tengah Khususnya, namun ada banyak yang tidak tahu awal mula sehingga adanya perang timbung. Termasuk prosesnya.
Pemangku keturunan ke Enam ini menceritakan tata cara pelaksanaan perang timbung. Pertama warga menggunakan baju adat, kemudian para kiyai dalam pelaksanaan adat ikut terlibat, ada kolaborasi adat dan agama satu kesatuan tidak terpisahkan saat prosesi berlangsung.
Perang Timbung katanya, merupakan tradisi peninggalan leluhur dalam perang zaman terdahulu. Dimana, peperangan kerajaan agar keributan dan kekacauan zaman dulu suka duka diganti dengan perang kesenangan dan kesyukuran dalam wujud mengenang masa lalu pada Abad pertama. Selama ini, perang timbung berlangsung di area Makam Serewe yang merupakan petilasan Makam Raja Pejanggik, banyak menyebutkan Arya Banjargetas. Ada juga menyebutkan Gajah Mada.
Ceritanya, saat itu kerajaan Lombok dipimpin Gajah Mada, Kerajaan Jawa bahkan kerajaan Bali juga dipimpin Gajah Mada. Pada zaman itu disimbolkan Kerajaan Jawa sebagai bendera putih, Kerajaan Bali bendera merah dan kerajaan Lombok bendera hijau bulan bintang yang merupakan satu kesatuan.
Kemudian, rangkaian sebelum prosesi Perang Timbung dimulai, ada proses pembuatan ketan dari padi, kemudian penyiapan kayu khusus dari akar kelapa yang telah kering dan dibakar menggunakan bara dalam mematangkannya. Timbung lalu dilapisi dengan daun pisang di dalamnya di masukkan ke dalam bambu berisi ketan dan santan yang mulai dimasak dengan cara dipanggang di atas bara. Proses pemanggangan dilakukan usai salat Magrib hingga Subuh, bahkan satu kampung tidak ada yang tidur pada saat prosesi berlangsung di Desa Pejanggik khususnya.
“Masyarakat juga memasak nasi dan lauk yang akan dibawa ke makam untuk makan bersama setelah prosesi ritual, zikir dan doa di lakukan,” tutur Satrianadi pada jurnalis korancepat.com
Ditanya tentang keterlibatan Desa dalam prosesi acara tersebut karena tidak terlihat kehadiran Kepala Desa sebagai Pemimpin tertinggi di Desa Pejanggik, Pemangku Satrianadi diam dan acungkan tangan permohonan maafnya yang berarti tidak ingin mengomentari tentang keterlibatan siapapun dalam acara yang wajib di lakukan masyarakat Serewe dalam satu kali setahun tersebut.
“Kami hanya fokus sama acara adat yang di wariskan leluhur kami, dan tidak ingin membicarakan yang lain,”tutup nya.
Sementara Kepala Desa Pejanggik H. Ahmad Nusilah yang di konfirmasi melalui Via Telpon oleh wartawan korancepat.com terkait ketidak hadirannya di Makam Serewe memberikan jawaban singkat.
“Saya kurang sehat dinda, saya hadir di Bale Belek, karena disitu juga ada acara zikiran dan sunatan,”jawab Kades Pejanggik.










