Mataram – Puluhan Warga dari Desa Bonjeruk, Kabupaten Lombok Tengah, yang merupakan keluarga almarhum Brigadir Esco Faska Rely mendatangi Polda Nusa  Tenggara Barat (NTB) pada Kamis (11/9/2025).

Mereka mendesak polisi segera mengungkap kasus tragis kematian Brigadir Esco yang ditemukan meninggal dengan kondisi wajah sudah rusak, leher dijerat tali dibawah pohon di kebun  yang jaraknya tidak jauh dari rumah Brigadir Esco di Dusun Nyiur Lembang, Kabupaten Lombok Barat, NTB, pada Minggu (24/8/2025).

“Kami meminta kejelasan kematian Brigadir Esco, kasus ini hampir tiga Minggu lebih tidak ada kejelasan,” kata salah satu anggota keluarga, kepada tim korancepat.com

Keluarga meyakini kematian Brigadir Esco bukan karena gantung diri. Mereka menduga kematian anggota lntel Polsek Sekotong itu mengarah ke kasus pembunuhan. Hingga kini, Polres Lombok Barat yang menangani kasus itu belum menetapkan tersangka.

Setelah bernegosiasi, massa yang terdiri dari kerabat, keluarga, tokoh masyarakat akhirnya diterima langsung dan diberikan masuk oleh jajaran Ditreskrimum Polda NTB. Mereka menyampaikan keresahan atas lambannya penanganan perkara yang ditangani Polres Lombok Barat dan meminta agar kasus segera dituntaskan.

Menanggapi desakan tersebut, AKBP Catur Erwin Setiawan, Kepala Subdirektorat III Jatanras Ditreskrimum Polda NTB, setelah melakukan hearing bersama perwakilan dari keluarga Almarhum Brigpol Esco langsung menemui massa yang berada di depan pintu gerbang Polda NTB. Ia mengatakan siap mengusut tuntas kasus ini.

“Kami siap menanggapi yang disampaikan pihak keluarga. Kami mohon waktu dan mohon kepercayaannya, dan menegaskan penyidik masih bekerja keras untuk mengungkap kasus kematian Brigpol Esco. ,” kata Catur kepada pihak keluarga.

“Kami masih mengumpulkan alat bukti supaya kasus ini terang benderang. Tidak ada hambatan, tapi memang butuh waktu untuk menganalisa hasil pemeriksaan,” kata Catur.

Ia menjelaskan, hingga kini lebih dari 50 saksi telah diperiksa, termasuk istri korban yang juga anggota polisi di Polres Lombok Barat. Menurutnya, keterlibatan istri korban masih sebatas pemeriksaan, bukan penghalang penyidikan.

“Terkait dengan isu yang beredar di masyarakat bahwa penanganan lambat karena istri korban anggota polisi itu tidak benar. Ini murni karena kami ingin mengumpulkan bukti yang kuat agar calon tersangka tidak lolos. Jangan sampai langkah kami salah tanpa dasar hukum,” tegasnya.

Catur mengungkapkan, hasil pemeriksaan forensik terkait kematian Brigpol Esco sebenarnya sudah keluar. Namun, dokumen tersebut masih berada di tangan penyidik Polres Lombok Barat.

Selain itu juga, penyidik juga masih menganalisis hasil ekstraksi ponsel milik istri korban. Sementara itu ponsel milik Brigpol Esco sendiri belum diekstrak.

“Data HP korban belum diekstrak, sementara HP istrinya sudah tapi masih kami analisa. Semua langkah ini penting agar kasus ini terang benderang,” tambah Catur.

“Intinya kami siap kami berkomitmen untuk mengungkap pelaku dan membereskan permasalahan ini sampai ke pengadilan,” tutup Catur Erwin.

Sementara itu, Sahran perwakilan pihak keluarga Brigpol Esco kepada awak media, meminta Kepolisian segera menangkap tersangka dari kasus pembunuhan ini.

Bahkan pihak keluarga mengancam jika sampai akhir pekan ini tidak ada kejelasan dari kasus ini, mereka akan melakukan aksi demontrasi besar-besaran di Polres Lombok Barat, “tutupnya”. (T)