Lombok Barat – Salah satu Aktivis yakni Asmuni, alamat Desa Jagaraga, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) NTB menyuarakan keprihatinannya atas lampu jalan Bil satu yang Telah lama mati di mulai dari Bundaran Gerung, Desa Dasan Tapen, sampai perbatasan Lobar-Loteng, hal ini tentu menyebabkan kegelapan dan kekhawatiran terhadap keamanan serta potensi kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas.
“Seperti yang terjadi di dusun kami ,dusun bremi di jalan bil satu, kecelakaan tabrak lari bukan sekali dua kali terjadi bahkan sudah banyak warga kami yang sudah meninggal di tabrak kendaraan bermotor,” cetus Asmuni sapaan akrabnya pada awak Media, Minggu 14 September 2025.
Ia menilai pemerintah daerah tidak memberikan perhatian sama sekali terhadap persoalan ini, “Kami Seperti Hidup di Lorong Gelap”
Banyaknya lampu jalan yang mati d jalan bil satu, mengindikasikan sangat buruknya kinerja pemerintah daerah lobar terutama dinas terkait, padahal anggaran untuk PJU ini tidak lah sedikit, lalu kemana para oknum pejabat mengelola anggaran itu?, tegasnya.
Menurut Asmuni, lampu penerangan jalan umum (PJU) bukan fasilitas gratis. “Masyarakat membayar untuk penerangan jalan umum, karena setiap bulan ada beban pajak penerangan jalan yang dipotong sekian persen dari total tagihan listrik. Pajak itu masuk ke kas daerah. Kalau jalan umum tetap gelap, berarti hak masyarakat diabaikan, “jelasnya”.
Aktivis tersebut menambahkan bahwa kondisi lampu mati sudah berlangsung lama. “Kalau masih ada lampu PJU mati, ini murni kesengajaan pemerintah daerah karena terjadi bukan sebulan dua bulan, melainkan bertahun-tahun. Hal ini sama dengan mengabaikan hak masyarakat umum,”ujarnya”.
“Ia berharap Pemda Lobar segera mengambil tindakan. “Masyarakat berhak menikmati penerangan jalan umum yang terang benderang. Pemda harus peduli terhadap hak pengguna jalan dan segera menghidupkan PJU di sepanjang jalur BIL Satu,”tutupnya.










