Korancepat – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tripat Gerung, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), mencatat peningkatan signifikan kunjungan pasien sejak memasuki triwulan akhir tahun 2025. Lonjakan terutama terjadi pada periode Oktober hingga Desember, seiring perubahan musim dan meningkatnya kasus penyakit infeksi saluran pernapasan.
Direktur RSUD Tripat Gerung, dr. H. Suriyadi, Sp.An, mengungkapkan bahwa tren penyakit yang paling mendominasi adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), disusul gangguan saluran pencernaan. ISPA tercatat menyerang berbagai kelompok usia, mulai dari kasus ringan hingga berat, dengan angka kejadian cukup tinggi pada anak-anak.
“Pada anak-anak banyak ditemukan pneumonia dan infeksi saluran napas atas. Bahkan saat ini ruang NICU kami penuh, termasuk pasien rujukan dari luar daerah seperti Kabupaten Lombok Utara,” ujarnya, Sabtu (27/12).
Peningkatan kasus tersebut berdampak langsung pada tingkat hunian tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR), khususnya di ruang perawatan anak. Dari total 28 tempat tidur yang tersedia di Ruang Alamanda, hampir seluruhnya terisi setiap hari.
“Kondisi ini menyebabkan antrean di UGD. Bukan karena pelayanan diperlambat, tetapi karena memang kapasitas rawat inap penuh. Pasien baru bisa masuk jika ada pasien lain yang sudah dipulangkan,” jelasnya.
Sebagai respons atas kebutuhan layanan kesehatan ibu dan anak, RSUD Tripat Gerung terus melakukan pengembangan fasilitas, khususnya layanan perawatan intensif. Selain NICU yang melayani bayi di bawah satu bulan, rumah sakit kini tengah mengembangkan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) untuk anak di atas satu bulan.
“Kami sedang menambah lima hingga enam tempat tidur PICU lengkap dengan ventilator. Ini bagian dari komitmen kami sebagai rumah sakit rujukan prioritas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),” kata dr. Suryadi.
Manajemen RSUD Tripat Gerung juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait sistem triase di Unit Gawat Darurat. Pasien diklasifikasikan dalam kategori merah, kuning, dan hijau sesuai tingkat kegawatdaruratan.
“Pasien kategori merah harus diawasi ketat di UGD atau langsung ke ICU/NICU. Kategori kuning diobservasi terlebih dahulu, sementara hijau menunggu ketersediaan ruang. UGD justru menjadi tempat paling aman karena tenaga medis dan alat tersedia 24 jam,” tegasnya.
Menghadapi kondisi cuaca ekstrem dan meningkatnya penyakit menular seperti TBC dan infeksi paru, RSUD Tripat Gerung memperketat protokol pengendalian infeksi. Ruang isolasi dilaporkan kerap terisi penuh, sehingga pembatasan jumlah penunggu pasien di UGD menjadi langkah wajib.
“Kami batasi maksimal dua penunggu. Ini demi mencegah penularan silang, terutama di area infeksius. TBC masih menjadi masalah serius, Indonesia bahkan berada di peringkat kedua dunia setelah India,” ungkap dr. Suryadi.
Secara statistik, RSUD Tripat Gerung mencatat rata-rata kunjungan rawat jalan mencapai 300–400 pasien per hari, sementara rawat inap sekitar 50–60 pasien per hari. Hingga akhir Desember 2025, total kunjungan pasien diperkirakan menembus 150 ribu pasien per tahun, meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski seluruh pasien masih dapat terlayani, tantangan ke depan muncul dengan penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang membatasi maksimal empat tempat tidur per ruangan.
“Jika KRIS diterapkan penuh, kapasitas pasti berkurang. Karena itu, kami harus mempercepat penambahan ruang rawat inap baru,” jelasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, RSUD Tripat Gerung telah mendapatkan dukungan anggaran pengembangan pada tahun 2026. Alokasi dana meliputi pembangunan ruang NICU senilai Rp1,2 miliar dari Dana Bagi Hasil (DBH), serta pembangunan ruang KRIS Maternal sebesar Rp3,1 miliar dari DBH Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
“Semua ini kami siapkan untuk memperbesar kapasitas layanan agar kualitas pelayanan tetap terjaga dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan tidak menurun,” tutup dr. Suryadi.










